
GORONTALO — Setiap kali melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) di puskesmas atau fasilitas kesehatan, hampir tak ada ibu hamil yang lupa membawa Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Buku berwarna merah muda yang dibagikan secara gratis oleh pemerintah ini dirancang sebagai "rangkuman hidup" berisi petunjuk gizi, jadwal imunisasi, hingga daftar tanda bahaya kehamilan. Namun, riset terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo mengungkapkan fakta mengejutkan: Cakupan kepemilikan dan kebiasaan membawa buku KIA yang tinggi ternyata tidak otomatis membuat pengetahuan ibu hamil meningkat.
Selalu Dibawa, Tapi Hanya Menempuh Perjalanan di Dalam Tas
Penelitian yang dipimpin oleh Nurhaliza Salim bersama tim akademisi kesehatan FK UNG menguji 50 ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kota Timur, Kota Gorontalo. Hasil studi menunjukkan bahwa 76% ibu hamil aktif membawa dan memanfaatkan buku KIA saat berkonsultasi dengan petugas kesehatan. Namun saat diuji tingkat pemahamannya mengenai materi kehamilan dasar, hasilnya justru bertolak belakang:
Melalui uji korelasi statistik Spearman, tim peneliti menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan Buku KIA dengan tingkat pengetahuan ibu hamil
Hanya Dianggap "Dokumen Paspor" Medis
Lantas, mengapa buku panduan setebal puluh halaman itu gagal mentransfer informasinya secara efektif? Temuan lapangan mengungkap fenomena unik. Mayoritas ibu hamil (72%) mengaku jarang atau hampir tidak pernah membaca ulang isi Buku KIA saat berada di rumah. Bagi mereka, fungsi buku tersebut mengalami pergeseran makna: bukan dianggap sebagai media pembelajaran mandiri, melainkan sekadar dokumen administratif tempat mencatat grafik pertumbuhan janin dan stempel pemeriksaan dari bidan atau dokter. Sikap pasif ini berdampak serius. Setengah dari total responden bahkan tidak mampu mengidentifikasi secara tepat tanda-tanda bahaya kehamilan—seperti pendarahan mendadak atau demam tinggi—yang seharusnya diantisipasi sejak dini.
Tantangan Media Digital & Jalan Keluar
Ketidakefektifan media cetak konvensional ini juga diperparah oleh pergeseran pola konsumsi informasi. Banyak ibu hamil dari kelompok usia muda lebih memilih mencari referensi kehamilan melalui platform media sosial seperti TikTok atau Instagram. Sayangnya, informasi di media sosial kerap terpotong-potong dan belum terverifikasi secara medis. Untuk mengatasi gap atau kesenjangan pengetahuan ini, para peneliti menyarankan reformasi strategi edukasi kesehatan:
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran