Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Di balik angka statistik yang sering kita dengar, terdapat kenyataan bahwa jutaan anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan yang dapat memengaruhi kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas mereka di masa depan. Karena itu, upaya pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Edukasi kepada keluarga, khususnya ibu sebagai pengasuh utama anak, menjadi faktor yang sangat menentukan.
Sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim akademisi Universitas Negeri Gorontalo di Desa Hungayonaa, Kabupaten Boalemo, memberikan gambaran menarik tentang pentingnya pengetahuan dalam mencegah stunting. Kegiatan tersebut berfokus pada peningkatan pemahaman ibu balita mengenai gizi seimbang dan langkah-langkah pencegahan stunting melalui sosialisasi interaktif, leaflet, serta video edukasi.
Masalah stunting di Indonesia tidak muncul begitu saja. Banyak faktor yang berkontribusi, mulai dari rendahnya pengetahuan gizi, keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, hingga kurangnya kesadaran tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif dan pemenuhan kebutuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Boalemo, angka stunting bahkan masih berada di atas 30 persen, jauh di atas target yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut penulis, fakta ini menunjukkan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kemiskinan atau ketersediaan pangan. Banyak keluarga sebenarnya memiliki akses terhadap makanan, tetapi belum memahami bagaimana menyusun pola makan yang benar untuk mendukung tumbuh kembang anak. Pengetahuan yang kurang sering kali membuat orang tua tidak menyadari pentingnya protein, vitamin, mineral, maupun praktik pemberian makan yang tepat.
Kabar baiknya, penelitian ini membuktikan bahwa edukasi yang sederhana dapat memberikan perubahan nyata. Sebelum sosialisasi dilakukan, masih banyak ibu yang memiliki tingkat pengetahuan rendah mengenai gizi dan stunting. Namun setelah mengikuti kegiatan edukasi, jumlah peserta dengan kategori pengetahuan baik meningkat drastis dari hanya empat orang menjadi delapan belas orang. Sebaliknya, kelompok dengan pengetahuan rendah berhasil ditekan hingga tidak ada lagi peserta yang berada dalam kategori tersebut.
Perubahan ini memberikan pelajaran penting bahwa informasi yang benar dapat menjadi "obat pencegahan" yang murah namun sangat efektif. Ketika seorang ibu memahami pentingnya makanan bergizi, pemberian ASI eksklusif, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin, maka peluang anak untuk tumbuh sehat juga semakin besar.
Lebih dari itu, edukasi juga membantu ibu mengenali tanda-tanda stunting sejak dini. Banyak kasus stunting terlambat ditangani karena orang tua menganggap tubuh pendek sebagai faktor keturunan semata. Padahal, stunting merupakan kondisi yang dapat dicegah apabila kebutuhan gizi anak terpenuhi sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun.
Namun demikian, peningkatan pengetahuan saja belum cukup. Tantangan terbesar adalah mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan sehari-hari. Seorang ibu mungkin sudah memahami pentingnya gizi seimbang, tetapi penerapannya membutuhkan dukungan lingkungan, akses pangan yang baik, serta pendampingan berkelanjutan. Karena itu, program edukasi tidak boleh berhenti pada satu kali sosialisasi. Dibutuhkan pembinaan rutin yang melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan tokoh masyarakat agar perubahan perilaku dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Dalam pandangan penulis, keberhasilan menurunkan angka stunting tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran kesehatan, tetapi juga oleh sejauh mana informasi kesehatan mampu dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Ketika seorang ibu mengetahui apa yang harus diberikan kepada anaknya, kapan harus memeriksakan pertumbuhan anak, dan bagaimana mencegah kekurangan gizi, langkah besar menuju Indonesia yang lebih sehat sebenarnya sudah dimulai dari rumah.
Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Stunting adalah tentang kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, investasi terbaik yang dapat dilakukan bangsa ini adalah memastikan setiap ibu memiliki pengetahuan yang cukup untuk membesarkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Temuan dari Desa Hungayonaa menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali berawal dari hal sederhana: memberikan informasi yang tepat kepada orang yang tepat. Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/8448/5963
Author: Faramita Hiola, Putri Ayuningtias Mahdang, Nanang R. Paramata
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran