Ketika berbicara tentang kolesterol tinggi, kebanyakan orang langsung mengaitkannya dengan penyakit jantung atau stroke. Namun, sebuah penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo mengingatkan bahwa kolesterol yang tidak terkontrol juga dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan ginjal, terutama pada penderita diabetes melitus tipe 2. Di Indonesia, jumlah penderita diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun. Bersamaan dengan itu, berbagai komplikasi kronis akibat diabetes juga semakin banyak ditemukan. Salah satu komplikasi yang paling berbahaya adalah nefropati diabetik, yaitu kerusakan ginjal yang terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang. Kondisi ini bahkan menjadi salah satu penyebab utama gagal ginjal kronis di dunia.
Menurut penulis, perhatian masyarakat selama ini masih terlalu terfokus pada pengendalian gula darah. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa faktor lain seperti profil lemak darah atau profil lipid juga memiliki peran penting dalam mempercepat kerusakan ginjal pada penderita diabetes. Penelitian yang dilakukan di Puskesmas Kota Utara, Kota Gorontalo, melibatkan 136 pasien diabetes melitus tipe 2. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien yang mengalami nefropati diabetik memiliki kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), trigliserida, serta rasio kolesterol total terhadap HDL yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang belum mengalami komplikasi ginjal.
Lebih menarik lagi, penelitian ini menemukan bahwa semakin tinggi kadar kolesterol total, LDL, trigliserida, dan rasio kolesterol total/HDL, semakin besar pula risiko terjadinya nefropati diabetik. Hubungan tersebut terbukti signifikan secara statistik. Temuan ini memberikan pesan penting bahwa menjaga kesehatan ginjal tidak cukup hanya dengan mengontrol gula darah. Kolesterol juga harus menjadi perhatian utama. Banyak penderita diabetes yang merasa aman ketika kadar gula darahnya mulai membaik, tetapi lupa memantau kadar lemak darah yang diam-diam dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah kecil di ginjal.
Secara sederhana, kadar LDL dan trigliserida yang tinggi dapat menyebabkan penumpukan lemak pada pembuluh darah ginjal. Akibatnya, aliran darah ke ginjal terganggu, muncul peradangan kronis, dan fungsi penyaringan ginjal menurun secara perlahan. Kerusakan ini sering berlangsung tanpa gejala pada tahap awal sehingga banyak pasien baru menyadarinya ketika kondisi sudah cukup berat. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 50 persen pasien diabetes yang diteliti sudah mengalami nefropati diabetik. Angka ini menunjukkan bahwa komplikasi ginjal masih menjadi masalah besar yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius dalam pelayanan kesehatan primer.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, hasil penelitian ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Data nasional menunjukkan bahwa diabetes menjadi salah satu penyakit tidak menular yang terus meningkat dan membebani sistem kesehatan. Jika komplikasi ginjal tidak dicegah sejak dini, biaya pengobatan yang harus ditanggung pasien maupun negara akan semakin besar, terutama ketika pasien memerlukan terapi cuci darah atau transplantasi ginjal. Karena itu, pendekatan penanganan diabetes perlu berubah. Selama ini edukasi sering berfokus pada pembatasan gula dan karbohidrat. Padahal, masyarakat juga perlu memahami pentingnya mengendalikan kolesterol melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, menjaga berat badan ideal, serta kepatuhan mengonsumsi obat yang diresepkan oleh tenaga kesehatan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa rasio kolesterol total terhadap HDL dapat menjadi indikator yang cukup baik untuk mendeteksi risiko komplikasi ginjal pada penderita diabetes. Dengan kata lain, pemeriksaan laboratorium sederhana yang selama ini tersedia di berbagai fasilitas kesehatan dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan ginjal.
Meski demikian, penulis penelitian juga mengingatkan bahwa hasil ini belum dapat dijadikan dasar tunggal untuk menentukan hubungan sebab-akibat karena penelitian menggunakan desain potong lintang dan dilakukan di satu fasilitas kesehatan. Namun, temuan tersebut tetap memberikan bukti kuat bahwa profil lipid berperan penting dalam perjalanan penyakit diabetes dan komplikasinya. Pada akhirnya, penelitian ini membawa pesan yang sangat mudah dipahami oleh masyarakat: menjaga ginjal pada penderita diabetes bukan hanya soal mengurangi gula, tetapi juga mengendalikan kolesterol. Keduanya harus berjalan beriringan.
Sources: https://jurnal.polkesban.ac.id/index.php/jmp2k/article/view/4334/1819
Author: St. Rahma, Sri Andriani Ibrahim, Jesica Mulyadi
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran