Di tengah berbagai upaya pemerintah menurunkan angka stunting dan memperbaiki status gizi anak, satu hal sederhana sering kali terlupakan: kehadiran ibu di posyandu. Padahal, penelitian terbaru di Kabupaten Gorontalo menunjukkan bahwa keaktifan ibu dalam mengikuti kegiatan posyandu memiliki hubungan yang nyata dengan status gizi bayi usia 8–12 bulan. Bagi sebagian masyarakat, posyandu mungkin masih dianggap sebagai kegiatan rutin bulanan untuk menimbang berat badan anak. Namun, sesungguhnya, posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat yang berfungsi memantau pertumbuhan anak, memberikan imunisasi, edukasi gizi, hingga mendeteksi dini berbagai masalah kesehatan pada bayi dan balita.
Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Limboto, Kelurahan Hutuo, Kabupaten Gorontalo, melibatkan 86 ibu yang memiliki bayi usia 8–12 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tergolong aktif mengikuti kegiatan posyandu, yaitu sebesar 61,6 persen. Sementara itu, mayoritas bayi memiliki status gizi baik, yakni mencapai 72,1 persen. Yang menarik, analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara keaktifan ibu di posyandu dengan status gizi bayi. Dengan nilai p-value 0,000, penelitian ini menegaskan bahwa semakin aktif seorang ibu memanfaatkan layanan posyandu, semakin besar peluang anaknya memiliki status gizi yang baik.
Menurut penulis, temuan ini menjadi pengingat penting bahwa persoalan gizi anak bukan hanya tentang ketersediaan makanan, tetapi juga tentang akses informasi dan pemantauan kesehatan yang berkelanjutan. Banyak orang tua merasa anak mereka sehat karena tampak aktif dan tidak sakit. Namun, tanpa pemantauan rutin, berbagai masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi, sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Posyandu memberikan kesempatan bagi ibu untuk mengetahui apakah berat badan dan panjang badan anak berkembang sesuai usia. Selain itu, ibu juga mendapatkan informasi mengenai pola makan, pemberian ASI, makanan pendamping ASI (MP-ASI), imunisasi, hingga pencegahan penyakit. Informasi-informasi inilah yang kemudian membantu orang tua mengambil keputusan yang tepat dalam merawat anak mereka.
Penelitian ini juga menemukan beberapa alasan mengapa masih ada ibu yang tidak aktif datang ke posyandu. Faktor jarak menjadi salah satu penyebab utama. Sebagian ibu tinggal lebih dari satu kilometer dari lokasi posyandu sehingga merasa kesulitan untuk hadir secara rutin. Selain itu, ada pula ibu yang merasa tidak perlu membawa anak ke posyandu karena menganggap anaknya sehat meskipun tidak dipantau secara berkala.
Pandangan seperti ini sebenarnya cukup berisiko. Banyak kasus gizi kurang, gizi buruk, bahkan obesitas pada anak yang tidak disadari oleh keluarga karena tidak dilakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin. Dalam penelitian tersebut masih ditemukan bayi dengan gizi kurang, gizi buruk, risiko gizi lebih, hingga obesitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah gizi tidak selalu identik dengan tubuh kurus, tetapi juga dapat berupa berat badan berlebih yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan di kemudian hari.
Lebih jauh lagi, penelitian ini menggarisbawahi bahwa pendidikan dan pengetahuan ibu berperan besar dalam menentukan perilaku kesehatan keluarga. Ibu yang memahami pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak cenderung lebih aktif menghadiri posyandu dan lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dapat menyebabkan orang tua mengabaikan pemeriksaan rutin yang sebenarnya sangat penting pada masa pertumbuhan emas anak. Dalam konteks pembangunan kesehatan nasional, hasil penelitian ini memiliki makna yang sangat relevan. Pemerintah saat ini tengah berupaya mempercepat penurunan stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun, target tersebut tidak akan tercapai hanya melalui program besar dan anggaran yang besar. Keberhasilan juga sangat ditentukan oleh partisipasi keluarga dalam memanfaatkan layanan kesehatan dasar yang sudah tersedia di lingkungan mereka.
Posyandu merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Ketika ibu aktif hadir, anak mendapatkan pemantauan yang lebih baik, masalah gizi dapat dideteksi lebih awal, dan intervensi kesehatan dapat diberikan sebelum kondisi menjadi lebih serius. Pada akhirnya, pesan dari penelitian ini sangat sederhana tetapi penting: menjaga kesehatan anak tidak dimulai ketika anak sakit, melainkan ketika orang tua secara rutin memantau tumbuh kembangnya. Posyandu bukan sekadar tempat menimbang bayi, melainkan investasi kesehatan yang menentukan kualitas generasi masa depan Indonesia. Dengan meningkatkan keaktifan ibu dalam kegiatan posyandu, langkah menuju anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan bebas masalah gizi akan semakin dekat. Sources: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/8740/6417
Author: Rahmatia H. Idrak, Nanang R. Paramata, Cindy Puspita Sari Haji Jafar, Nur Fitriah Jumatrin
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran