Kualitas Tidur Perawat: Faktor Sederhana yang Menentukan Mutu Pelayanan Rumah Sakit

Oleh: Jesica Mulyadi . 7 Juli 2026 . 21:19:18

Ketika masyarakat datang ke rumah sakit, harapan terbesar mereka adalah mendapatkan pelayanan yang cepat, tepat, dan penuh perhatian. Namun, di balik kualitas pelayanan tersebut terdapat satu faktor yang sering luput dari perhatian, yaitu kualitas tidur tenaga kesehatan, khususnya perawat. Sebuah penelitian terbaru di RSUD Toto Kabila, Gorontalo, menunjukkan bahwa kualitas tidur memiliki hubungan yang erat dengan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Temuan ini menjadi penting karena perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling banyak berinteraksi dengan pasien. Mereka hadir selama 24 jam, mendampingi proses perawatan, memantau kondisi pasien, memberikan edukasi kesehatan, hingga menjadi garda terdepan dalam memastikan keselamatan pasien. Oleh karena itu, kualitas pelayanan rumah sakit tidak bisa dilepaskan dari kondisi fisik dan mental para perawat.

Sayangnya, masalah kualitas tidur masih menjadi tantangan di kalangan tenaga kesehatan. Sistem kerja bergilir, dinas malam, beban administrasi, serta tuntutan pelayanan yang tinggi sering kali membuat waktu istirahat perawat berkurang. Akibatnya, sebagian perawat mengalami kelelahan, mengantuk saat bekerja, bahkan mengalami penurunan konsentrasi yang dapat memengaruhi kualitas pelayanan kepada pasien.

Penelitian yang melibatkan 50 perawat di RSUD Toto Kabila menemukan bahwa sebagian besar perawat memiliki kualitas tidur yang baik (62 persen) dan kinerja yang baik (76 persen). Namun, yang lebih menarik, analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan kinerja perawat. Semakin baik kualitas tidur seorang perawat, semakin baik pula kinerjanya dalam menjalankan tugas pelayanan kesehatan.

Menurut penulis, hasil penelitian ini mengingatkan bahwa kesehatan tenaga kesehatan tidak boleh diabaikan. Selama ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada fasilitas rumah sakit, teknologi medis, maupun kompetensi tenaga kesehatan. Padahal, faktor dasar seperti tidur yang cukup juga memiliki peran besar dalam menentukan kualitas pelayanan yang diterima pasien.

Penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa perawat masih mengalami gangguan tidur. Ada yang membutuhkan waktu lama untuk tertidur karena penggunaan gawai sebelum tidur, ada yang memiliki durasi tidur kurang dari lima jam per hari, dan ada pula yang mengalami rasa kantuk berlebihan saat bekerja pada siang hari. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas kerja serta meningkatkan risiko kesalahan dalam pelayanan kesehatan.

Dari sudut pandang pelayanan publik, temuan ini memiliki makna yang lebih luas. Kualitas tidur bukan hanya urusan pribadi perawat, tetapi juga bagian dari strategi peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Ketika tenaga kesehatan mendapatkan waktu istirahat yang cukup, mereka akan lebih fokus, lebih sigap mengambil keputusan, lebih ramah dalam berkomunikasi, dan lebih mampu menjaga keselamatan pasien. Sebaliknya, kelelahan akibat kurang tidur dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, kemampuan berpikir, serta kualitas pelayanan yang diberikan.

Karena itu, rumah sakit perlu mulai melihat manajemen istirahat sebagai investasi, bukan sekadar kebutuhan individu. Pengaturan jadwal kerja yang lebih seimbang, pengelolaan shift yang manusiawi, serta penciptaan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara keseluruhan.

Pada akhirnya, penelitian ini memberikan pesan sederhana namun sangat relevan bagi dunia kesehatan Indonesia: pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat dan kompetensi tenaga medis, tetapi juga pada terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, termasuk tidur yang cukup. Jika kita ingin meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dan keselamatan pasien, maka menjaga kualitas tidur tenaga kesehatan harus menjadi bagian dari perhatian bersama.

Sources: https://ejurnal.ladkes.com/index.php/mjhsr/article/view/143/pdf

Author: Friska Pakaya, Nanang R. Paramata, Ibrahim Suleman

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran